Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KERKHOOF TANJUNGPINANG POTENSI WISATA SEJARAH YANG TERLUPAKAN

kerkhoof tampak depan (dok.pribadi)

Kerkhoof atau Kuburan Belanda berlokasi di Jalan Kamboja- Kecamatan Tanjungpinang Barat Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau. Sekitar 120 makam terdapat dalam Kerkhoff dengan Luas lahan 54 m x 54 m yang langsung dengan rumah penduduk. Kerkhof merupakan situs sejarah peninggalan zaman Belanda yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya tidak inventaris 03/BCB-TB/C/01/2007. Situs ini dilindungi oleh undang-undang No. 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya .        

Di kutip  dari laman https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/ Kerkhoof belanda ditetapkan sebagai cagar budaya tidak bergerak berada pada urutan ketiga daftar pemutakhiran data Cagar Budaya kota Tanjungpinang tahun 2018.    
Riwayat makam ini tidak diketahui dengan jelas, tetapi dari inskripsi yang terdapat pada nisan-nisan makam, dapat ditarik kesimpulan bahwa makam ini mulai digunakan mulai abad ke-19 sampai abad ke-20. Angka tahun tertua yang dapat dibaca bertarikh 1855, ditulis dalam bahasa Belanda hier rust PLUIM MENTZ, PREDIEKAM GEB. TO HARLINGEN 13 Februari 1804 OVERLEDEN 20 JANUARI 1855 sedangkan angka tahun yang termuda bertarik 1965. berat makam Atas nama Inneke (hilang) Gumilar yang lahir dan meninggal pada tanggal 17 Desember 1965 adalah bayi ynag baru lahir. Kuburan belanda (kherkhof) ini menjadi bukti bahwa di Tanjungpinang ada jejak belanda, sebelum Jepang masuk ke Tanjungpinang tanggal 21 Februari 1942




makam tertua (dok. pribadi)
KONDISI MAKAM SEKARANG
Penjelajahan Jumat lalu (13/9) pagar bercat abu-abu setinggi 2 meter mengelilingi area Kerkooff, pintu gerbang terlihat tidak terkunci kami bebas masuk dan mengabadikan keadaan didalam Kerkhoof dengan Kamera dan gawai yang kami miliki. terlihat seputaran makam bersih dari rerumputan. Ketika kami masuk terlihat sisa dahan pohon yang di tebang teronggok di sudut kanan makam.
Di dalam makam Ada dua buah pohon besar di dalam komplek, 1 pohon mangga dan 1 pohon sejenis Beringin yang berada di masing-masing kiri dan kanan, diperkirakan kedua pohon ini sudah berumur puluhan tahun. Ada juga gazebo yang masih berdiri kokoh namun kurang bersih dan 1 gazebo sudah roboh karena lapuk dimakan usia. Di tengah komplek ada beberapa makam besar dengan tembok yang menghitam di karenakan faktor usia dan terpaan cuaca panas maupun hujan.ada juga makam yang hanya tinggal nisannya saja.


makam termuda (dok.pribadi)





Kami mulai memeriksa satu-satu pertemuan yang ada di dalam komplek, yang terpenting adalah makam bahasa Belanda, ada juga yang berbahasa Indonesia dan bahasa China. Untuk makam yang tidak terbaca lagi, kami harus meraba batu nisan dengan jemari agar bisa mengetahui usia makam itu sendiri. Jika memang makam yang tertua tahun 1855 maka dipastikan saat ini makam tersebut berusia 154 tahun. Masih banyak makam-makam ynag tidak bisa dibaca, penelusuran di internet pun tidak menunjukkan indentitas makam-makam tersebut.





Penasaran dengan sejarah kerkhoof, kami mendatangi Dandan Setia Ketua RT setempat, namun sayang tak banyak informasi yang kami peroleh. Dari pengakuannya semenjak ia tinggal diwilayah Kemboja. Sebelum diambil alih oleh Balai Nilai Cagar Budaya (BNPB) dirinya bersama warga yang membersihkan makam. Ia mengatakan beberapa tahun lalu ada pemakaman yang dilakukan.
“Mungkin kerabat atau keluarga yang meninggal ingin memindahkan makam” ucapnya.
Pernah juga ada turis dari Belanda yang datang melihat kuburan dan menanyakan kepada dirinya mengapa kuburan tidak terawat.
“seorang Belanda datang membawa peta tahun 1977 yang menggambarkan kondisi makam yang masih dipagar besi” jelasnya. “karena tidak menemukan makam yang di cari orang itu pernah datang lagi” pungkasnya. Penasaran dengan hal-hal yang berbau mistis di sekitar komplek makam, Dandan mengatakan tidak pernah terjadi apa pun selama ia tinggal di jalan Kemboja. Hal itu pun juga di akui oleh Alma pemilik warung yang berhadapan langsung dengan komplek.


“sejak saya lahir dan tinggal disini tidak ada penampakan Noni atau tentara Belanda”.terangnya. Disinggung mengenai turis yang datang melihat Kerkhoof, warga mengatakan hampir tidak pernah ada wisatawan asing maupun lokal yang datang untuk melihat-lihat situs ini. Namun saat ini di dalam komplek Kerkhoof jauh lebih bersih dibanding tahun-tahun sebelumnya.






ANAK SEKOLAH TIDAK TAHU ADA KUBURAN BELANDA DI TANJUNGPINANG
Mengejutkan, Miris, itulah yang penulis rasakan ketika menanyakan kepada beberapa pelajar SD-SMP dimana letak situs cagar budaya Kerkhof di Tanjungpinang. “ Kerkhoof..? “Apa itu..?” dia balik bertanya.
“pernah dengar gak kalau orang belanda pernah ada di Tanjungpinang dan dimakamkan disini?” saya bertanya, lagi-lagi dijawab” tidak tau” ada pula yang bilang “masa sih”?
Tak berhenti di situ saya mencoba bertanya kepada Ibu-Ibu di bilangan KM 14.
“Kerkhoof ee?” dia balik bertanya dalam bahasa logat melayu.” Kamboja tak salah kami ada di jalan kalau masih ada ntah sekarang” gundul panjang lebar.
Saya kembali mencoba mencari postingan dengan tagar #Kerkhoof #kuburan belanda #Kerkhooftanjungpinang dan beberapa tagar spesifik lainnya yang saling berhubungan di media social Instagram, lagi-lagi saya tidak menemukan ada jejak digital orang yang pernah berfoto atau  potret komplek Kerkhof Tanjungpinang.
POTENSI WISATA SEJARAH
Dari Penelusuran yang saya lakukan dan wawancara, saya dapat menyimpulkan situs cagar budaya Kherkof Tanjungpinang nyaris dilupakan orang. Anak sekolah yang tidak tau apa arti Kherhoof, letaknya dimana, dan sejarah penjajahan belanda di Indonesia, khususnya Tanjungpinang. Orang tua yang lupa-lupa ingat dengan keberadaan Kherkoof dan lain sebagainya.
Saya berpikir mungkin saja anak sekolah tidak tau dimana letak kuburan belanda di Tanjungpinang karena sekolahnya tidak pernah melakukan kunjungan ke situs cagar budaya khususnya Khekhoof  ini. Kemudian wajar apabila ibu-ibu juga lupa, mengingat ada urusan apa mendatangi kuburan orang yang tak dikenal dan jarang pula disebut-sebut orang (mungkin karena tidak ada hantunya) “hehe..”
***
Tanjungpinang sebagai daerah lalu lintas para turis yang melancong ke pulau Bintan melalui penerbangan Singapura ataupun masuk dari Batam sangat mempunyai peluang untuk merebut kunjungan wisman itu. Banyak orang Eropa meski turis asal Belanda tidak terdata secara signifikan datang ke Bintan berlibur menikmati pantai, eksostisnya Lagoi dan Nikoi serta beberapa tempat lainnya. 
Sejauh ini pemerintah kota Tanjungpinang sudah berupaya menggeliatkan pariwisata di Tanjungpinang, berbagai ivent kepariwisataan sudah di helat. ada beberapa obyek wisata yang menjadi favorit turis yang datang dari Benua Asia (China, Singapura, Malaysia,Jepang  dan Korea)  seperti pulau Penyengat, Patung Seribu, Gedung Gonggong, dan beberapa Vihara. Obyek ini hanya di jadikan tempat persinggahan untuk berfoto tetapi tidak menghabiskan uang mereka. Setelah puas berfoto mereka akan melanjutkan perjalanan  ke Bintan menikmati laut, pasir putih dan berjemur. Umumnya turis ini lebih memilih menginap di hotel-hotel yang ada di Tanjungpinang mungkin Karena harga sewa hotelnya lebih murah di bandingkan  di Bintan.
Hampir setiap hari armada bis pariwisata berseliweran di jalanan Tanjungpinang, dari arah Tanjungpinang Timur menuju ke gedung Gonggong. Bahkan rombongan ada juga yang melewati jalan Kamboja, namun tak sekalipun rombongan tersebut berhenti di Kherkoft. Ataupun turis yang ke pulau Penyengat  tidak ada yang datang ke komplek Kherkoof.
Turis-turis Eropa ini biasanya lebih banyak dari Rusia, mereka datang ke Bintan melalui penerbangan Singapura. Dari Singapura mereka akan menyebarang menggunakan kapal cepat  dan langsung turun  di pelabuhan Bandar Bentan Telani (BBT). Kemudian mereka akan langsung menginap di hotel yang tuju seperti Banyan Three, Swiss Bell, Sanchaya, Nirwana Garden, Nirwana Resort.
Mereka sangat jarang terlihat di Tanjungpinang. Ada tetapi bisa dihitung dengan jari. Menurut Informasi yang saya terima dari seorang ASN di Kabupaten Bintan yang tidak mau disebutkan namanya, Bintang dunia Tom Cruise  pun pernah menginap di hotel Sanchaya. Ini membuktikan begitu harum nama pariwisata Bintan  di mata dunia.
Hal ini adalah  peluang bagi Tanjungpinang, Tanjungpinang yang satu daratan dengan Bintan tidak merasakan langsung dampak pariwisata ini. Salah satu tantangan pemerintah Kota Tanjungpinang bagaimana caranya para turis itu juga mampir ke Tanjungpinang. Baik turis Asia maupun Eropa menghabiskan uangnya disini. Memang banyak tempat atau destinasi wisata di Tanjungpinang yang juga sudah mendunia, seperti pulau Penyengat tadi, tapi tak dapat di pungkiri mereka hanya sekedar mampir melihat lihat.
Terkait turis Eropa yang hampir tidak di temukan di Tanjungpinang, pemerintah kota tanjungpinang harus bekerja lebih ektra lagi, berpikir bagaimana caranya turis Eropa yang datang ke Bintan juga datang ke Tanjungpinang.
Menurut Hemat saya, Kerkoof yang berada di jalan Kemboja ditambah situs benda cagar budaya peninggalan colonial Belanda lainnya seperti Rumah Jill Belanda (sekarang Rutan kelas II Tanjungpinang), Benteng Bukit Kursi di pulau Penyengat dan SD-SMP Bintan bisa dijual nilai sejarahnya. Gedung SD-SMP Bintan ini dulunya di fungsikan sebagai tempat berdansa bagi orang-orang Belanda.  
Tentu kita berpikir Bagaimana caranya agar destinasi ini laku dijual nilai sejarahnya, menurut saya,  pemerintah Kota Tanjungpinang harus bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Bintan  agar para turis Eropa itu turut datang ke Tanjungpinang. Langkah selanjutnya pemerintah juga bekerjasama dengan agen-agen travel dalam dan luar negeri  memasukkan Kerkoof dan situs cagar budaya lain ke dalam paket tour yang dijual. Dengan demikian tempat atau destinasi ini akan  di singgahi oleh para turis.

Tanjungpinang memiliki sejarah yang panjang dan sangat menarik untuk diurai, berdasarkan Sulalatus Salatin (karya dalam bahasa Melayu yang menggunakan abjad Jawi), Tanjungpinang merupakan bagian dari kerajaan Malaka. setelah malaka jatuh ke tangan Portugal, Sultan Mahmud Syah menjadikan kawasan ini sebagai pusat pemerintahan kesultanan Malaka. kemudian menjadikan pusat pemerintahan kesultanan Johor sebelum diambil alih oleh Belanda setelah mereka menundukkan perlawanan Raja Haji Fisabilillah tahun 1784 di pulau penyengat. Pada masa Hindia Belanda, Tanjungpinang merupakan pusat Keresidenan Riouw. (diambil dari : https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tanjungpinang)

Lalu bagaimana caranya mereka tidak hanya berfoto ria saja?
Tanjungpinang umumnya Kepulauan Riau memiliki khazanah adat budaya kemelayuan dan tradisi yang sangat kental, saling berkaitan dengan Negara tetangga Malaysia dan Singapura. Di bidang kesenian ada tari Zapin, tari Sekapur Sirih, joget Dangkong, seni teater Mak Yong, karya sastra Gurindam 12, sastra Tuhfat Al Nafis dan masih banyak lagi. Selain itu Ada juga upacara adat tradisional yang dilaksanakan oleh etnis Thionghoa seperti Malam kue bulan, Sembahyang laut oleh umat Tionghoa dan Tepuk Tepung Tawar oleh suku melayu dan satu lagi Tanjungpinang juga dikenal sebagai negeri pantun.

Urusan perkulineran. Siapa yang tidak tahu dengan Gonggong, semua orang yang datang ke Tanjungpinang pasti sudah merasakan kelezatan  siput laut ini, hewan laut yang hanya hidup di peraian Kepulauan Riau. Bahkan hewan inipun dijadikan sebagai Landmark kota Tanjungpinang dan gerbang wisata Bahari di Kepulauan Riau.
KESIMPULAN
Sejarah, Seni Budaya, tradisi, karya sastra dan kekayaan kuliner adalah  modal pemerintah untuk menahan agar turis betah berlama-lama di Tanjungpinang. Pemerintah harus pandai mengotak atik, padu padankan ivent dengan  paket-paket wisata yang akan dijual sesuai selera turis Asia dan Eropa.
Kalau boleh menduplikasi konsep pariwisata yang ada di Bali, setiap daerah disana adalah destinasi wisata bagi para turis, semua yang dilakukan oleh orang Bali sangat menarik perhatian. Padahal tidak semua daerahnya pantai. Lihat saja desa Ubud terkenal dengan tari Barong dan tari Kecak. setiap hari sellau ramai dengan turis.
Di Tanjungpinang kita bisa membuat sebuah  pertunjukan kesenian tari tradisional joget mak Dangkong, kemudian opera  Engku Putri Raja Hamidah misalnya atau Mak Yong.
Saya yakin jika ini digarap dengan serius tanpa meninggal kemajuan tekhnologi, serta memanfaatkan media sosial akan sangat berpotensi untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tanjungpinang pertunjukan. Tentu saja juga menggaet pihak swasta.
Terkait Kerkoof harus di perhatikan, makam di pugar, identitas makam harus dijelaskan dan anak sekolah diwajibkan untuk melalakukan kunjungan ke sana agar menambah wawasan tentang sejarah, kemudian memasukkan Kerkhoof ke paket wisata lebih sebagai destinasi wisata yang ada di Tanjungpinang.


pintu masuk kherkhoof (dok.pribadi)

Untuk membangun bangsa dan negara ini khususnya #Tanjungpinangkampongkite terus gali potensi dan berkolaborasi demi Tanjungpinna kota yang maju berbudaya dan sejahtera dalam harmoni kebhinekaan masyarakat madani. (ds)  #tanjungpinangkampongkite

#tanjungpinangkampongkite



Posting Komentar untuk "KERKHOOF TANJUNGPINANG POTENSI WISATA SEJARAH YANG TERLUPAKAN"