Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

UKW, SIAPA TAKUT!!

Hitungan hari tahun 2018 akan segera berakhir, itu artinya kita akan memasuki tahun baru 2019. Tentu akan banyak hal-hal baru yang akan kita temui di tahun baru nanti, termasuk aturan-aturan baru bagi para jurnalis baik dari media cetak, media siber maupun media elektronik.

Berbicara mengenai aturan untuk media massa yang ada di indonesia, tahun 2019 nanti seluruh media yang ada harus terverivikasi oleh Dewan Pers dan wartawannya di wajibkan harus memiliki sertifikasi sesuai jenjang kewartawannya. Ada tiga tingkatan jenjang bagi para wartawan. Wartawan Muda adalah wartawan yang sehari-hari bertugas di lapangan, meliput dan menulis berita hasil liputannya. Wartawan Madya adalah redaktur, Kordinator Liputan dan/atau Redaktur Pelaksana (Redpel). Wartawan Utama adalah Redpel Senior, Wakil Pemimpin Redaksi, dan Pemimpin Redaksi.

Di mulai tahun 2019 nanti uji kompetensi wartawan akan lebih sangat selektif, para wartawan yang tidak memiliki sertifikasi tidak akan diakui kewartawanannya dan juga media massa yang tidak terverivikasi di dewan pers tidak akan mendapatkan kerjasama dari instansi-instansi pemerintah. Selanjutnya tahun depan Uji Kompetensi Wartawan akan menambah mata ujiannya yakni etika wartawan dan kode Etik Jurnalistik berikut dengan UU Pers.

Di Provinsi tempat saya tinggal terlebih pada bulan Desember ini sebagian lagi berlomba-lomba menggelar UKW dengan menggandeng sejumlah lembaga yang di akui oleh Dewan Pers memiliki kompetensi untuk menguji.

Saya sangat setuju UKW ini di laksanakan bagi para wartawan, karena banyak sekali di temui di lapangan orang yang mengaku-aku sebagai wartawan, namum tidak bisa memberikan atau mencontohkan dirinya sebagai seorang wartawan sejati. Bahkan sejumlah oknum wartawan pemula yang belum pernah menjabat redaktur pelaksana maupun koordinator liputan mulai berburu sertivikasi wartawan Utama agar lolos verivikasi dengan tujuan dapat menerima kerjasama tadi. dan terlebih banyak sekali hasil tulisan yang di muat di medianya sangat tidak menunjukkan bahasa jurnalistik sesungguhnya dalam hal ini saya mengambil contoh tulisan-tulisan yang di muat di media Siber

Saya juga mengikuti UKW jenjang Madya yang dilaksanakan oleh Lembaga Penguji Kompetensi Wartawan dan Sertifikasi Keterampilan Jurnalistik Jurusan Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta yang bekerjasama dengan salah satu mediamassa di kota saya selama 2 hari.
Saya bekerja pada sebuah Televisi lokal dikota ini sejak 7 tahun terakhir, memulai karir sebagai pembaca berita freelance yang hanya di bayar Rp 20.000 sekali siaran. Namun kabar baik untuk karir saya datang di bulan Oktober tahun 2015. Saya di angkat karyawan tetap, meski sebelumnya banyak drama yang di lalui.

Mengapa saya katakan penuh drama?, Saya akui tahun 2015 itu umur yang sudah cukup matang memang agak susah jika di angkat menjadi karyawan baru di sebuah perusahaan. Sempat terniat dalam benakku waktu itu untuk berhenti saja sebagai pembaca berita. Di tambah lagi ejekan suami yang hanya mendapatkan uang setiap bulannya tak sampai Rp 500.000.
Rentang waktu selama lebih kurang 3 tahun menjadi pembaca berita saya manfaatkan sesekali untuk turun kelapangan belajar liputan membuat berita, bahkan untuk menunjang pembelajaran itu saya rela menabung uang gaji dari membaca berita untuk membeli Handycam. Dan kemudian kabar baik itu datang dari manager marketing saya yang mungkin melihat potensi saya. Sebagai tambahan, ketika menjadi tenaga freelance saya juga beberapa kali berhasil mendapatkan iklan meski paling tinggi hanya senilai Rp 5.000.000.

Pertama saya di angkat menjadi karyawan langsung di tempatkan di bagian program yang bertugas merancang, merancang dan menjual program Televisi. Contohnya program Talk Show, Reality Show maupun Kuis di tambah mengisi suara pula untuk naskah berita (dubber). Saya lupa, untuk menyusun Jadwal tayangan di televisi juga saya yang melakukan. Akhir-akhir ini selain mengerjakan itu saya juga turun kelapangan untuk meliput berita dan tentu saja tugas sebagai pembaca berita masih tetap berjalan walau Intensitasnya sudah berkurang. Jangan tanya soal gaji, pekerjaan sebanyak itu jumlah Rupiah yang saya terima masih standar UMK di kota saya. Saya tetap bersyukur karena uang bukanlah menjadi tolak ukur bagi saya.

Saya mendengar Istilah UKW sudah beberapa lama. Sampai pada akhir tahun ini, obloran-obrolan tentang UKW terus bergema. Saya cari di internet, ternyata UKW di perlukan bagi seorang wartawan sebagai pernyataan di akuinya di Dewan Pers.

Sampai pada penghujung tahun 2018 ini saya mengajukan kepada Pimred saya yang dulu menjbat sebagai Manager Marketing untuk mengikuti UKW. Pimred saya setuju dan bahkan membantu saya dan salah seorang rekan kerja yang ikut UKW dengan pembayaran dapat dicicil. Rencana saya untuk mengikuti UKW jenjang Madya pun di setujuinya.
“kalo di rasa mampu, ya silahkan saja” ucapnya.
Rencana untuk mengikuti UKW jenjang Madya ini malah di tentang oleh rekan satu kantor. Entah apa yang menjadi alasannya.
“Kok ikut jenjang Madya, kamu kan baru. Seharusnya kan ikut jenjang Muda” katanya
“Kalo dia mampu ya gak masalah, saya saja langung ke jenjang Utama” begitu pembelaan Pimredku.
Tentangan itu pun berlanjut sampai masa pra UKW yang di laksanakan panitia. Ketika pembagian kelompok antara Utama, Madya dan Muda. dan saya pun sudah bergabung dengan kelompok Madya, rekan saya masih mengatakan, “kamu kan di kelompok Muda, jangan gabung disini” ucapnya bernada ketus.
“Loh kenapa, kan Pimred sudah setuju kalo saya ikut jenjang Madya” kata saya.
“Daripada kamu tidak lulus” katanya. Kalimat itu cukup mempengaruhi mental saya, “ ya, daripada tidak lulus, jam terbang membuat berita yang bersifat straigh news memang lebih sedikit”. Pikirku “ lebih ambil UKW jenjang Muda saja, toh tahun depan bisa ikut yang jenjang Madya, Syukur-syukur bisa langsung loncat ke jenjang Utama” pikirku saat itu.
Masa UKW tiba pada waktunya, pembukaan berlangsung cukup meriah dan tidak terlalu menegangkan. Ketika pembagian kelompok ujian sesuai jenjang, nama saya pun masih tercantum di kelompok jenjang Madya. Karena diawal saya sudah memutuskan untuk ikut di jenjang Muda, saya pun bertanya kepada panitia pelaksana kenapa nama saya masih ada di kelompok Madya. Setelah berkonsultasi dengan ketua panitia akhirnya saya memutuskan untuk mengambil ujian tingkat Madya. Dan Ujian Kompetensi Wartawan di mulai.

Hari pertama Ujian berlangsung lancar dan menyenangkan, Mengidentifikasi/Koordinasi liputan, Analisa Bahan Liputan Terjadwal, Merencanakan Liputan Investigasi, Menyunting Berita, dan Membuat Berita Feature berjalan lancar dan saya dapat melewatinya.
Ujian hari kedua, saya nervous. Bagaimana tidak, seperti yang di katakan oleh teman-teman peserta sebelumnya agar berhati-hati ketika Ujian Jejaring, Narasumber lambat atau tidak mengangkat panggilan Telepon akan mengurangi nilai, bahkan bisa membuat kita tidak lulus. Ketakutan itu terbawa sampai pada saat saya menjalani Uji Jejaring. Syukur Alhamdulillah ketiga narasumber yang di tunjuk oleh penguji dapat menerima panggilan Telepon saya. Uji jejaring dapat saya lalui berikut dengan Merancang Isi Rubrik, dan Rapat Redaksi dapat saya lalui dengan baik.
Seorang teman seprofesi yang juga mengikuti Uji Kompetensi jenjang Madya mengatakan kepada saya, alasannya mengikuti UKW ini adalah agar tidak dikatakan wartawan abal abal oleh orang lain. Di sisi lain ia juga mengatakan dirinya mengikuti UKW agar lebih mudah untuk mendapatkan kerjasama dengan instansi-intansi nantinya.
“Saya mengikuti UKW ini agar saya tidak di katakan abal-abal dan media kami bisa lebih mudah mendapatkan kerjasama, karena wartawan kami sudah ada beberapa orang yang mengikuti UKW” paparnya.

Sedangkan motivasi Saya sendiri mengikuti UKW ini lebih kepada pembuktian diri saya kepada orang-orang yang mencemooh pekerjaan saya, rekan sekantor maupun pimpinan perusahaan yang menaungi saya. Bahwa saya mampu membuktikan dengan prestasi saya. Lain dari pada itu, motivasi saya mengikuti UKW ini adalah kecintaan saya kepada dunia Jurnalistik ini. Inilah yang menjadi motivasi utama mengikuti UKW ini, mungkin suatu saat saya membangunsebuah perusahaan media sendiri.

Uji Kompetensi Wartawan selesai pada waktu yang telah di tentukan, meski saya sudah melihat nilai yang saya peroleh ketika Evaluasi dengan Penguji, hanya satu mata ujian dengan nilai 70 dan selebihnya saya memperoleh nilai 75 sampai dengan 85. Hati saya masih deg-degan menunggu hasil.
“bukankah nilai kamu tidak ada yang di bawah 70?” kata penguji kepada saya “ mengapa harus takut?” katanya.
“tapi Pak, saya sangat gugup ketika uji Jejaring” kata saya.
“kalo yang tidak berkompeten berap nilainya? Kata penguji kepada saya. “ dibawah 70” kata saya. “lalu mengapa harus takut?” penguji seolah menguatkan saya.
Iya begitulah, akhirnya saya mendapat predikat berkompeten pada UKW kali ini. Dengan total akumulasi nilai 700. Hari berikutnya saya dan penguji masih berdiskusi via pesan What’s Up membahas berita kegiatan UKW.
“kamu sangat berkompeten, dari 4 orang yang ada di kelompok kita nilai kamu yang paling tinggi, yang lain tidak genap 700. Tetap semangat belajar” tulisnya .

***
Menurut saya tidak yang perlu di takutkan mengikuti UKW ini. Bukankah apa yang di ujikan oleh dewan penguji adalah makanan kita sehari-hari? Lain hal kalau kita tidak pernah mengerjakan pekerjaan itu. tentu akan kelabakan pada saat di uji nanti. Apalagi langsung mengambil jenjang Utama, sementara kita tidak pernah melewati beberapa prosedur sebelum berita layak tayang atau naik di media kita. Tentu akan lebih membuat kita lebih kelabakan di depan penguji.




Posting Komentar untuk "UKW, SIAPA TAKUT!!"